Kepo Boleh, Ghibah Jangan Iyah
JAWA TENGAH — Di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital yang kian terbuka, masyarakat diingatkan untuk mampu membedakan antara rasa ingin tahu (kepo) dan perilaku ghibah yang berpotensi melukai martabat sesama.
Fenomena ini menjadi sorotan di berbagai ruang sosial, mulai dari percakapan warung kopi hingga lini masa media sosial.
Dalam kajian Islam, ghibah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12, yang mengibaratkan orang yang menggunjing saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya sendiri—sebuah perumpamaan keras yang menunjukkan betapa seriusnya larangan tersebut.
Rasulullah ﷺ juga memperjelas makna ghibah dalam sejumlah hadits sahih, bahwa menyebutkan keburukan orang lain yang benar adanya pun tetap termasuk ghibah jika orang tersebut tidak menyukainya.
Secara sosiologis, “kepo” seringkali dianggap sebagai bentuk kepedulian atau rasa ingin tahu yang wajar.
Namun, ketika rasa ingin tahu itu berubah menjadi konsumsi cerita negatif tentang orang lain tanpa hak dan manfaat, di situlah batas etika terlampaui.
Di era digital, praktik ini semakin mudah terjadi—cukup dengan satu tangkapan layar, satu unggahan, atau satu komentar bernada insinuatif.
Saya; Pengamat komunikasi sosial dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa budaya ghibah digital dapat merusak reputasi seseorang dalam hitungan menit. “Jejak digital tidak mengenal kata hapus secara mutlak.
Sekali tersebar, dampaknya bisa panjang, baik secara psikologis maupun sosial,” ujarnya dalam diskusi literasi digital pekan ini.Lebih jauh, etika komunikasi publik juga menjadi perhatian lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia yang berulang kali mengingatkan pentingnya tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan informasi.
Prinsip ini bukan hanya bernilai teologis, tetapi juga relevan dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk.
Secara nasional hingga internasional, kampanye anti-bullying dan etika bermedia sosial terus digaungkan.
Namun, akar persoalannya tetap kembali pada kesadaran individu: apakah informasi yang dibagikan membawa maslahat atau justru mudarat?
Tagline “Kepo Boleh, Ghibah Jangan Iyah” menjadi pengingat ringan namun bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Rasa ingin tahu adalah fitrah, tetapi menjaga lisan dan tulisan adalah pilihan moral.
Dalam dunia yang serba cepat ini, jeda sebelum berbicara atau membagikan informasi bisa menjadi bentuk ibadah sekaligus kontribusi nyata bagi ketenangan sosial.
Seru menurut ku, didalam baca media ini yang unik dan nyaman mata dilangkah berdigital tentram sampai batas Yogyakarta – kami merujuk mengenal keredaksiaan diawali sama-sama bebarengan isi dunia network nyerukan aksi-aksi ngegigit tingkat “image” yang kadang buat kami bersama merekatkan filosofi dunia sampai saat ini.
asli saya dari Jakarta, nyimak saja kunci-kunci suratan tersirat penulis yang aktif pada masa perkembangan zaman ke diwaktu meneropong sajian ilmu pendidikan agama.
Namun, hijrah saya telah masuki 4 dekade musim di sebuah kampung Daerah Istimewa Yogyakarta. Jujur, sebenarnya belum istimewa juga kali kalo masih kunjungi keraton disekitar masih terbengkalai berserakan sampah – atau kalo saya showan ke Parangtritis pun sama aja.Masih trend di Jakarta tau, menurut ku loh‼️
Makanya hari ini lewat milis ku kirimkan ke rekan yang dahulu dikenal waktu menempa sama-sama kawan, sahabat, di meja redaksi berirama saat itu.
sukses terus untuk semua dewan redaksi media ini, masih teriang kok kaka ku yang saat ini sama juga terdengar sekarang di Jawa juga.
Nah, loh . . . gimana sehat semua kan Kaka? semoga bermanfaat untuk menarik semua publish di seluruh bendera yang selalu berkibar yups. #Vita.A
karena, sudah shubuh hari Vita pamit dulu untuk semua keredaksiaan media platfform digital siber online – teruslah semangat semua. Vita sewaktu-waktu milis lagi Iyah. Ini buat wacana Ramadhan yang kebetulan bentar lagi loh.
mohon maafkan Vita, kalo ada kesalahan dari awal mengenal di gelombang hari diwaktu mengisi tingkat Jakarta dalam perilaku dan adab diri ini iya Kaka semua.
Salam Redaksi , Vita.A Thanks see you letter from Miss You Pers Inthink O’
Daerah Khusus Istimewa Yogyakarta – Kepo Boleh, Ghibah Jangan Iyah.
Psikologi tetap indah, Spesies yang belum diterka semua insan hehehe… “Selamat Jumpa Bulan Ramadhan Kariem. Puasa Ramadhan diawali hari kamis saja ikut pemerintah pusat.
Redaksi | 16 Februari 2026
